(Sebuah catatan menjelang Pemilu)
Benarkah
suara rakyat adalah suara Tuhan? dalam situasi perpolitikan negeri ini pertanyaan ini
sepertinya sangat sulit untuk dijawab. Proses pemilihan untuk para pemimpin
politis seperti presiden, gubernur, bupati/walikota dan anggota legislatif yang
saat ini dipilih secara langsung, justru menuai berbagai masalah. Lihat saja pada pilkada diberbagai
daerah di Indonesia, Pilkada selalu menuai protes dari kandidat yang kalah,
bahkan korban jiwapun berjatuhan dan rakyat kecil jugalah yang paling terakhir
selalu menanggung akibatnya.
Semboyan
“suara rakyat adalah suara Tuhan” mulai dikampanyekan pada zaman Yunani kuno.
Hal ini dilakukan untuk meyakinkan rakyat bahwa pilihan mereka adalah yang
harus diakui dan menjadi tolak ukur dalam menjalankan kebijakan pemerintahan.
Semboyan ini secara implisit menggandeng ranah kepercayaan (agama) untuk
memuluskan pengakuan publik pada kekuasan politik. Sejak itu semboyan Vox
Populis Vox Dei menjadi kekuatan baru untuk mengkampanyekan sistem pemerintahan
yang “katanya” demokratis.
Semboyan ini juga telah menyeret para pemuka
agama untuk terjung ke dalam kubangan dunia politik yang seharusnya mereka
jauhi. Sejarah telah membuktikan bahwa keikutsertaan para
pemuka (bukan pemimpin) agama dalam ranah politik menjadi perdebatan panjang yang tak kunjung
padam. Persoalan paling hakiki yang selalu menjadi perdebatan adalah bahwa
selayaknya agama sebagai sebuah lembaga seharusnya bebas dari pengaruh
kekuasaan politik. Alasannya bahwa tujuan dari kedua lembaga ini sangat
berbeda. Namun pada kenyataanya para pelayan Tuhan yang bekerja pada
lembaga-lembaga Agama banyak yang melayani di ladang politik.
Suara
rakyat adalah suara Tuhan sepertinya dijawab oleh para pelayan Tuhan dengan
ikut dalam ranah politik dan kekuasaan. Kedua lembaga ini
sebenarnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Negara bertujuan memenuhi
kebutuhan jasmani (sandang, pangan dan papan) sementara agama bertujuan
memanuhi kebutuhan Rohani. Pada zaman Romawi dan Yunani
kuno para penguasa dikenal sebagai titisan Tuhan sehingga kekuasaan mereka merupakan
kekuasaa absolut. Dinasti-dinasti besar dalam sejarah merupakan kekuasaan
turun-temurun yang selama ribuan tahun menjadi sebuah kebenaran. Namun akhirnya
kesadaran akan sebuah kekuasaan politik rakyat tidak lagi mengakuinya. Hal
inilah yang melahirkan sistim demokrasi yang hingga saat ini menjadi slogan
dalam menjalankan sebuah negara.
Kenyataannya
sistem pemerintahan demokratis yang mengkampanyekan kekuasaan dari, oleh dan
untuk rakyat hingga saat ini belum juga
dapat terimplementasikan sepenuhnya. Slogan suara rakyat
adalah suara Tuhan belum banyak memberi pengaruh untuk mencapai kekuasaan yang
berkedaulatan rakyat. Kekuasaan yang dijalankan dengan sistem demokrasi lebih
mirip kediktatoran. Negara terus menjadi alat penindas bagi rakyat kecil yang
merupakan warga negara terbanyak. Hal inilah yang mendorong para pemuka agama
berkeinginan untuk terjun dalam ranah politik dengan asumsi bahwa agama dapat
menjadi penengah ketegangan kekuasaan dengan rakyat.
Pemilu hanya menjadi ajang memperebutkan kekuasaan
politik. Mesjid, Gereja, Vihara dan tempat2
ibadah lainnya menjadi ramai karena hiruk pikuk kampanye. Misi-misi
kampanye para pemburu kekuasaan menjadi gaung dalam rumah ibadah yang dibungkus rapi dengan slogan-slogan ketuhanan.
Dapat
dipahami bahwa ketika ranah agama digunakan untuk mempengaruhi rakyat dalam
memilih, tentu sangat besar pengaruhnya. Rakyat
Pemilih yang rata-rata pendidikan politiknya masih relatif
rendah sangat rentan untuk dipengaruhi, apalagi dengan menggunakan nama Tuhan. Seharusnya
para pemuka
agama dapat menyadari hal ini. Suara rakyat adalah suara Tuhan bukan berarti
bahwa para pelayan di ladang Tuhan harus ikut serta dalam mempengaruhi rakyat
untuk memilih seseorang. Kalaupun Tuhan berkeinginan untuk menunjuk seseorang
untuk menjadi pemimpin rakyat, pasti Tuhan punya cara sendiri untuk
menjadikannya sebagai pemimpin.
Bukankah
sebaiknya ketika para pelayan Tuhan mendoakan para calon pemimpin ini agar pada
saat rakyat menunjuk mereka sebagai pemimpin maka Tuhan dapat memberikan hikmat
kebijaksanaan dalam memimpin serta membersihkan jiwa para pemimpin ini dari
semua sifat tercela. Do’a seharusnya
menjadi kekuatan para pemuka agama dalam meminta petunjuk Tuhan agar para pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang benar-benar
memihak rakyat kecil. Inilah harapan terbesar rakyat dari para pemuka agama. Seharusnya mereka lebih fokus dalam memimpin spiritual rakyat untuk menentukan pilihan, bukan dengan
mengundang para calon kedalam gereja,
mesjid,
vihara dsb. Ketaatan seorang pemimpin kepada Tuhan
tidak semestinya diukur pada saat menjelang Pemilu karena iklim politik sangat mendominasi
psikologi semua pihak apalagi para calon.
Pemimpin
yang taat kepada Tuhan seharusnya
dibuktikan dengan keberpihakannya
pada kepentingan rakyat kecil. Namun untuk menentukan siapakah diantara para calon yang ada sekarang ini yang memenuhi
kriteria tersebut, tentu untuk menjawab hal inilah kita
sangat membutuhkan pertolongan Tuhan agar kita semua tidak salah memilih. Dalam
hal inilah kita sangat membutuhkan dukungan dari para pemuka agama agar memimpin kita untuk
memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa agar kita tidak salah memilih pada
saat Pemilu
nanti. Politik uang yang sedang marak dilakukan untuk memenangkan para kandidat juga menjadi
salah satu permohonan kita agar rakyat dapat memilih pemimpinnya bukan karena diberikan uang. Semoga Doa dan
permohonan kita semua dapat dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.



Post a Comment
Tanggapan Anda.!