Home » » MENYOAL KEIKUTSERTAAN PEMUKA AGAMA DALAM POLITIK

MENYOAL KEIKUTSERTAAN PEMUKA AGAMA DALAM POLITIK

Written By Unknown on Friday, 4 October 2013 | Friday, October 04, 2013


(Sebuah catatan menjelang Pemilu)


Benarkah suara rakyat adalah suara Tuhan? dalam situasi perpolitikan negeri ini pertanyaan ini sepertinya sangat sulit untuk dijawab. Proses pemilihan untuk para pemimpin politis seperti presiden, gubernur, bupati/walikota dan anggota legislatif yang saat ini dipilih secara langsung, justru menuai berbagai masalah. Lihat saja pada pilkada diberbagai daerah di Indonesia, Pilkada selalu menuai protes dari kandidat yang kalah, bahkan korban jiwapun berjatuhan dan rakyat kecil jugalah yang paling terakhir selalu menanggung akibatnya.
Semboyan “suara rakyat adalah suara Tuhan” mulai dikampanyekan pada zaman Yunani kuno. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan rakyat bahwa pilihan mereka adalah yang harus diakui dan menjadi tolak ukur dalam menjalankan kebijakan pemerintahan. Semboyan ini secara implisit menggandeng ranah kepercayaan (agama) untuk memuluskan pengakuan publik pada kekuasan politik. Sejak itu semboyan Vox Populis Vox Dei menjadi kekuatan baru untuk mengkampanyekan sistem pemerintahan yang “katanya” demokratis.
Semboyan ini juga telah menyeret para pemuka agama untuk terjung ke dalam kubangan dunia politik yang seharusnya mereka jauhi. Sejarah telah membuktikan bahwa keikutsertaan para pemuka (bukan pemimpin) agama dalam ranah politik menjadi perdebatan panjang yang tak kunjung padam. Persoalan paling hakiki yang selalu menjadi perdebatan adalah bahwa selayaknya agama sebagai sebuah lembaga seharusnya bebas dari pengaruh kekuasaan politik. Alasannya bahwa tujuan dari kedua lembaga ini sangat berbeda. Namun pada kenyataanya para pelayan Tuhan yang bekerja pada lembaga-lembaga Agama banyak yang melayani di ladang politik.
Suara rakyat adalah suara Tuhan sepertinya dijawab oleh para pelayan Tuhan dengan ikut dalam ranah politik dan kekuasaan. Kedua lembaga ini sebenarnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Negara bertujuan memenuhi kebutuhan jasmani (sandang, pangan dan papan) sementara agama bertujuan memanuhi kebutuhan Rohani. Pada zaman Romawi dan Yunani kuno para penguasa dikenal sebagai titisan Tuhan sehingga kekuasaan mereka merupakan kekuasaa absolut. Dinasti-dinasti besar dalam sejarah merupakan kekuasaan turun-temurun yang selama ribuan tahun menjadi sebuah kebenaran. Namun akhirnya kesadaran akan sebuah kekuasaan politik rakyat tidak lagi mengakuinya. Hal inilah yang melahirkan sistim demokrasi yang hingga saat ini menjadi slogan dalam menjalankan sebuah negara.
Kenyataannya sistem pemerintahan demokratis yang mengkampanyekan kekuasaan dari, oleh dan untuk rakyat hingga saat ini belum juga dapat terimplementasikan sepenuhnya. Slogan suara rakyat adalah suara Tuhan belum banyak memberi pengaruh untuk mencapai kekuasaan yang berkedaulatan rakyat. Kekuasaan yang dijalankan dengan sistem demokrasi lebih mirip kediktatoran. Negara terus menjadi alat penindas bagi rakyat kecil yang merupakan warga negara terbanyak. Hal inilah yang mendorong para pemuka agama berkeinginan untuk terjun dalam ranah politik dengan asumsi bahwa agama dapat menjadi penengah ketegangan kekuasaan dengan rakyat.
Pemilu hanya menjadi ajang memperebutkan kekuasaan politik. Mesjid, Gereja, Vihara dan tempat2 ibadah lainnya menjadi ramai karena hiruk pikuk kampanye. Misi-misi kampanye para pemburu kekuasaan menjadi gaung dalam rumah ibadah yang dibungkus rapi dengan slogan-slogan ketuhanan.
Dapat dipahami bahwa ketika ranah agama digunakan untuk mempengaruhi rakyat dalam memilih, tentu sangat besar pengaruhnya. Rakyat Pemilih yang rata-rata pendidikan politiknya masih relatif rendah sangat rentan untuk dipengaruhi, apalagi dengan menggunakan nama Tuhan. Seharusnya para pemuka agama dapat menyadari hal ini. Suara rakyat adalah suara Tuhan bukan berarti bahwa para pelayan di ladang Tuhan harus ikut serta dalam mempengaruhi rakyat untuk memilih seseorang. Kalaupun Tuhan berkeinginan untuk menunjuk seseorang untuk menjadi pemimpin rakyat, pasti Tuhan punya cara sendiri untuk menjadikannya sebagai pemimpin.
Bukankah sebaiknya ketika para pelayan Tuhan mendoakan para calon pemimpin ini agar pada saat rakyat menunjuk mereka sebagai pemimpin maka Tuhan dapat memberikan hikmat kebijaksanaan dalam memimpin serta membersihkan jiwa para pemimpin ini dari semua sifat  tercela. Do’a seharusnya menjadi kekuatan para pemuka agama dalam meminta petunjuk Tuhan agar para pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang benar-benar memihak rakyat kecil. Inilah harapan terbesar rakyat dari para pemuka agama. Seharusnya mereka lebih fokus dalam memimpin spiritual rakyat untuk menentukan pilihan, bukan dengan mengundang para calon kedalam gereja, mesjid, vihara dsb. Ketaatan seorang pemimpin kepada Tuhan tidak semestinya diukur pada saat menjelang Pemilu karena iklim politik sangat mendominasi psikologi semua pihak apalagi para calon.

Pemimpin yang taat kepada Tuhan seharusnya dibuktikan  dengan keberpihakannya pada kepentingan rakyat kecil. Namun untuk menentukan siapakah diantara para calon yang ada sekarang ini yang memenuhi kriteria tersebut, tentu untuk menjawab hal inilah kita sangat membutuhkan pertolongan Tuhan agar kita semua tidak salah memilih. Dalam hal inilah kita sangat membutuhkan dukungan dari para pemuka agama agar memimpin kita untuk memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa agar kita tidak salah memilih pada saat Pemilu nanti. Politik uang yang sedang marak dilakukan untuk memenangkan para kandidat juga menjadi salah satu permohonan kita agar rakyat dapat memilih pemimpinnya bukan karena diberikan uang. Semoga Doa dan permohonan kita semua dapat dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.



Share this article :

Post a Comment

Tanggapan Anda.!